PALUTA.WAHANANEWS.CO, Medan – Nama Herman Saragih kini bergema lantang sebagai sosok pemimpin buruh yang teguh memperjuangkan hak-hak pekerja di Sumatera Utara. Lahir di Desa Tung Tung Batu, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi pada 10 Februari 1982, Herman tumbuh dalam keluarga sederhana yang menanamkan nilai kejujuran dan kerja keras. Ia merupakan anak kedua dari empat bersaudara, putra pasangan Jarmies Saragih dan Nurlela Nasution.
Sejak kecil, Herman Saragih telah ditempa oleh kehidupan yang penuh tantangan. Setelah menamatkan pendidikan dasar di SD 030392 Parongil, ia merantau ke Medan dan dibesarkan di Panti Asuhan Al Jamiyatul Washliyah Pulo Brayan Km.6. Di sana, ia melanjutkan pendidikan ke MTS dan MAS Al-Jamiyatul Washliyah Medan. Lingkungan religius dan disiplin membentuk karakter kuat yang kelak menjadi fondasi perjuangannya di dunia organisasi.
Baca Juga:
Pemkab Paluta Audensi dengan Kemensos RI, Ini Arahan Wamensos RI!
Ketua Umum DPW PPMI Provinsi Sumut Herman Saragih.
Karier awal Herman Saragih dimulai sebagai Satuan Pengamanan di PT Srikandi Inti Lestari dan Bank BNI 46 Cabang Medan. Pengalaman ini mengajarkannya arti kedisiplinan dan tanggung jawab. Ia kemudian beralih menjadi wartawan, profesi yang mengasah kemampuan komunikasi, analisis, dan advokasi publik—bekal penting yang mengantarkannya menjadi aktivis buruh.
Dalam dunia organisasi, Herman menapaki jenjang kepemimpinan dengan konsistensi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPC Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sekretaris OKK DPP JBMI, serta Ketua Umum DPC Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) Kabupaten Labuhanbatu Utara. Kini, ia dipercaya sebagai Ketua Umum DPW PPMI Provinsi Sumatera Utara, posisi strategis yang ia gunakan untuk memperkuat solidaritas buruh dan memperjuangkan kesejahteraan pekerja.
Baca Juga:
Upacara Peringatan Hari Kesadaran Nasional Pertama Pemkab Paluta Tahun 2026
Herman Saragih dikenal sebagai pemimpin visioner, komunikatif, dan amanah. Baginya, perjuangan buruh bukan sekadar soal ekonomi, melainkan juga tentang martabat, keadilan, dan kesejahteraan bersama.
Dalam berbagai kesempatan, ia kerap mengutip pesan tokoh besar untuk menginspirasi gerakan buruh. Seperti pesan KH. Hasyim Asy’ari: “Pekerja keras adalah bagian dari jihad, karena bekerja untuk menafkahi keluarga adalah ibadah.”
Dengan motto hidup “Bekerja dengan ikhlas, berjuang dengan tegas, dan memimpin dengan amanah demi keadilan serta kesejahteraan bersama,” Herman Saragih terus menapaki jalan pengabdian. Ia menjadi teladan bahwa seorang pemimpin lahir dari kerja keras, pengalaman, dan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap rakyat yang diperjuangkannya, ujar beliau kepada reporter wahananews.co pada Jum'at (23/1/2026).
[Redaktur: Marapada Boy Harahap]