PALAS.WAHANANEWS.CO, Kecamatan Hutaraja Tinggi - Masyarakat Trans Swakarsa Mandiri (TSM) Ujung Batu V, Kecamatan Hutaraja Tinggi, Kabupaten Padang Lawas (Palas) menderita. Mereka di daerah tempat tinggalnya dihadapkan pada masalah dilema, pilih minggat atau bertahan ditengah ketidakpastian.
Pasalnya, masyarakat TSM yang saat ini masih memilih menetap di lahan seluas pekarangan rumah hanya bersisa 19 Kepala Keluarga (KK) saja. Sementara sisanya, 181 KK memilih minggat ke sanak familinya.
Baca Juga:
Silaturahmi dan Reses Komite I DPD RI di Polda Jambi Bahas Sinergitas Penanganan Narkotika
Contohnya, Mas Erros (40), warga TSM yang memilih menetap selama kurang lebih 30 tahun hanya bertahan dengan memungut brondolan sawit demi menghidupi keluarganya.
“Kita yang memilih tinggal di lahan TSM ini karena tidak memiliki pilihan mas, lagian mau pergi kemana. Saya dibesarkan disini mas,” Kata Erros saat ditemui reporter wahananews.co di desa Ujung Batu V, lokasi TSM, Rabu (25/2/2026).
”Dulu pemerintah memberikan kita material bangunan, kemudian tiap bulan selama enam bulan kita diberikan jatah, mulai dari beras, ikan asin, minyak goreng, minyak lampu, garam, gula, bibit tanaman, alat pertanian segala macam bantuan untuk kita berusaha,” sambung Erros.
Baca Juga:
Warga Sarolangun Blokir Jalan, Minta Tambang Ilegal Segera Ditutup
Erros menyebutkan, Sesudah ada PT VAL (PHI), masyarakat TSM hanya diberikan lahan seluas pertapakan rumah 475 meter/segi, padahal sesuai janji, seharusnya untuk lahan pertapakan mereka menerima seluas 975 meter/segi, ditambah lahan untuk usaha I dan II dengan total dua hektare per KK.
19 KK yang memilih bertahan di lahan TSM bekerja sebagai tukang panen sawit, memungut brondolan sawit dan usaha lainnya mengharapkan upah dari orang lain untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
”Alhamdulillah, kami masih bisa mengumpulkan brondolan sawit hanya untuk sekedar bertahan hidup, kita gak punya pilihan mas,” ujar Erros.